Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah Dikepung Bencana, BPBD Minta Warga Waspadai Cuaca Ekstrim

jembatan penghubung akses bagi warga Desa Tinigi, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah yang putus akibat dihantam banjir. FOTO: SABRAN

PALU, KabarSelebes.com – Cuaca ekstrim yang terjadi di sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah menyebabkan banjir dimana-mana. Tercatat, banjir dan tanah longsor terjadi di tujuh Kabupaten kota di Sulawesi Tengah.

Ke tujuh wilayah itu adalah Kota Palu, Donggala, Sigi, Tolitoli, Buol, Tojo Unauna dan Banggai. Banjir terparah terjadi di Kabupaten Tolitoli, Donggala dan Banggai. Di Tolitoli dan Banggai, banjir hingga merenggut korban jiwa.

Banjir dan Longsor di Tolitoli,  Aktifitas Lumpuh Total
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Tolitoli sejak sabtu (3/6/2017) hingga Minggu (4/6/2017) siang, menyebabkan sejumlah wilayah di daerah itu terendam banjir. Air bah bahkan mengepung sebagian besar kabupaten Tolitoli hingga menyebabkan wilayah itu lumpuh akibat banjir.  Bukan hanya banjir bandang, sejumlah ruas jalan menuju Tolitoli juga mengalami longsor  dan menutup akses transportasi dari dan ke kota Tolitoli.
Banjir merendam ribuan rumah penduduk di sejumlah kecamatan di Tolitoli. Aktivitas warga setempat juga lumpuh karena hampir seluruh akses jalan raya tidak dapat dilalui. Ditambah lagi aliran listrik juga dipadamkan sejak selesai buka puasa.

Tercatat ribuan rumah warga di empat kecamatan yakni kecamatan Lampasio, kecamatan Baolan , kecamatan Galang dan Dakopemean terendam banjir. Lokasi banjir hampir merata di empat kecamatan, namun lokasi parah berada di  kecamatan Baolan yang dilaporkan hingga mencapai atap rumah warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolitoli menyebutkan, dua warga dilaporkan meninggal dalam peristiwa banjir bandang . Dua warga yang meninggal tersebut bernama Salma (65) warga jalan anoa kelurahan Tuweley Kecamatan Galang serta  Rahmi (66) warga Kelurahan Tambun Kecamatan Baolan. Keduanya tewas akibat tenggelam.

Tingginya intensitas hujan di daerah ini juga ikut memicu tanah longsor di beberapa wilayah. Data BPBD kabupaten Tolitoli setidaknya ada 30 titik yang mengalami longsor di kawasan jalan trans sulawesi yang menghubungkan kabupten Buol dan kabupten Donggala . Sementara satu jembatan  penghubung antar desa di kecamatan Galang tepatnya di desa Tinigi putus akibat luapan air sungai sehingga akses menuju perkebunan milik warga lumpuh.

Hingga saat ini BPBD kabupaten Tolitoli masih terus melakukan pendataan kepada para korban banjir yang terdampak di empat kecamatan di kabupten Tolitoli dan kerugian materi ditaksir  mencapai 20 milyar

Banjir di Bunta Kabupaten Banggai, Tiga Warga Hilang
Banjir bandang menerjang Desa Huhak dan Lontio, Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Minggu (4/6/2017).

Musibah alam itu mengakibatkan tiga warga dinyatakan hilang dan dua unit mobil terseret banjir.

Kapolres Banggai AKBP Heru Pramukarno membenarkan terjadinya banjir bandang di wilayah Kecamatan Bunta hingga hilangnya tiga warga.

Kapolres Heru mengatakan, untuk korban hilang terseret banjir bandang yang terjadi di Desa Huhak itu teridentifikasi bernama Abidin T Kusang, Kepala Sekolah Biga Kecamatan Walea, Kabupaten Tojo Unauna.

Selanjutnya, Amang, bendahara sekolah Biga Kecamatan Walea, Tojo Unauna, dan sopir Travel Mitra Touna yang identitasnya belum diketahui.

Selain tiga warga hilang, dua unit mobil juga ikut terbawa arus banjir bandang masing-masing mobil jenis minibus Mitra Touna dan satu unit mobil angkutan Bunta-Luwuk jenis Toyota Avanza sopir Haliki, warga Desa Toima, Kecamatan Bunta.

Bupati Banggai Herwin yatim dan Wakil Bupati Banggai Mustar Labolo yang mendengar musibah itu langsung meninjau lokasi banjir dan berkoordinasi dengan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Bunta untuk segera melakukan upaya pencarian terhadap korban serta membuka akses jalan yang terputus.

Sementara Kapolres Heru Pramukarno bersama rombongan yang juga tiba di lokasi bencana alam di Desa Huhak langsung memimpin personel kepolisian serta gabungan dari tim Basarnas Banggai dan Koramil untuk melakukan tindakan tanggap darurat, termasuk mencari tiga warga yang hilang terseret banjir bandang.

“Pencarian korban sampai saat ini belum ditemukan,” kata mantan Kapolres Banggai Kepulauan itu seperti dikutip SultengTerkini.com.

Saat ini kata Kapolres Heru, telah diturunkan tiga unit alat berat ekskavator dan buldoser sudah berada di lokasi kejadian untuk membuka jalan.

Hingga saat ini antrian kendaraan baik dari arah Kecamatan Bunta menuju Luwuk maupun sebaliknya masih terlihat panjang kurang lebih satu kilometer.

“Saat ini akses jalan belum bisa dilalui. Penumpang yang akan menuju ke arah Bunta maupun sebaliknya menggunakan perahu sampan/katinting,” tutur orang pertama di Polres Banggai itu.

Menurut Heru, saat ini curah hujan di lokasi masih tinggi, sehingga tidak menutup kemungkinan bencana banjir masih belum surut dan diperkirakan akan melebar ke wilayah lain.

“Sampai malam ini korban (yang hilang) belum dapat ditemukan. Rencana besok pagi tim Basarnas, Polri dan TNI serta aparat pemerintah Banggai kembali melakukan pencarian korban dan membersihkan jalan yang tertutup longsor,” tegas Heru.

Sungai Palu Meluap, Ribuan Rumah Warga di Palu Terendam
Hujan deras yang mengguyur Kota Palu sejak Sabtu (3/6/2017) malam, menyebabkan meluapnya sungai Palu. Luapan sungai yang membelah kota Palu ini mengakibatkan sejumlah pemukiman warga di empat kelurahan terendam air.

Hingga Minggu (4/6/2017) malam, sejumlah warga mulai mengungsi setelah ketinggian air semakin bertambah dan mulai menghawatirkan.

Empat kelurahan yang terendam air luapan sungai Palu itu adalah Kelurahan Ujuna, Kelurahan Baru, Kelurahan Lere Dan Kelurahan Lolu. Empat kelurahan ini memang terletak di sekitar sungai Palu.

“Air sudah mulai naik malam ini.  Tadi pagi masih di mata kaki, sekarang sudah sampe di lutut,” Kata Imran, warga kelurahan Baru minggu malam.

Air mulai memasuki pemukiman warga sejak minggu dini hari. Air dari sungai palu itu meluap setelah debit air tidak bisa lagi menampung dan menjebol sejumlah tanggul. Ditambah lagi, sejumlah gorong-gorong dan selokan di sekitar pemukiman warga yang tersumbat, membuat banjir semakin tidak bisa dikendalikan.

Terdata, ada 1.000 lebih rumah warga terendam air banjir. Sebagian warga yang tinggal skitar dibantaran sungai sudah bersiap-siap untuk mengungsi menyusul masih tingginya debit air sungai palu.

“Di kelurahan Ujuna ada 300-an rumah, di kelurahan Baru dan Lere juga 300 lebih rumah serta di Lolu Utara ada lebih dari 100 rumah yang terendam air,” kata Mas’ud, seorang tokoh masyarakat setempat.

BPBD Sulteng Ingatkan Warga Waspadai Cuaca Ekstrim
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kembali mengingatkan warga bahwa cuaca ekstrem masih membayangi sejumlah wilayah di provinsi itu sehingga perlu diwaspadai.

“Hujan deras disertai angin kencang dan petir masih akan melanda sejumlah daerah di Sulteng ke depan,” kata Kepala BPBD Sulteng, Bartholomeus Tandigala di Palu, Selasa (30/5/2017).

Karena itu, warga yang bermukim di daerah-daerah rawan bencana alam banjir dan longsor di Sulteng hendaknya meningkatkan kewaspadaan karena sewaktu-waktu bencana bisa saja terjadi di saat musim hujan sepekrti sekarang ini.

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat melaporkan sejumlah wilayah di Sulteng sangat berpeluang besar dilanda cuaca ekstrem.

Hujan deras yang disertai angin kencang beberapa hari terakhir ini dan ke depan masih melanda sejumlah daerah di Sulteng seperti Kabupaten Poso, Parigi Moutong, Donggala, Sigi dan termasuk Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng. Guyuran hujan terjadi pada siang dan malam hari sehingga perlu mendapat perhatian masyarakat.

BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Sulteng tetap siaga dan begitu terjadi bencana alam di daerah, langsung menurunkan tim reaksi cepat bersama dengan sejumlah peralatan dan kebutuhan lainnya yang diperlukan.

Selain itu, BPBD Sulteng juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait mengantisipasi dan mencegah bencana alam banjir dan tanah longsor dengan berbagai cara dilakukan seperti tidak lagi membuka hutan untuk kebutuhan areal kebun atau membabat hutan.

Karena hal itu dapat menimbulkan bencana alam banjir dan tanah longsor. Apalagi di daerah aliran sungai sangat rawan, jiwa hutannya sudah gundul karena pembukaan lahan kebun.

“Jangan lagi membuka lahan baru, sebaliknya jagalah hutan agar tetap terpelihara dengan baik sehingga banjir dan tanah longsor tidak terjadi,” tandasnya.

TIM KABARSELEBES.COM

Silakan komentar Anda Disini....

Most Popular

To Top